(oleh: Sumartoyo, S.Pd., M.Si)
SEKOLAHPEMIMPIN – Pasca Venezuela jatuh ke AS, perubahan geopolitik dunia bergeser 180 derajat. Negara-negara NATO yang dulu masih mengandalkan bantuan AS kini masing-masing meningkatkan anggaran militer untuk mengantisipasi perang dingin atau “perang siber”. Di awal Januari 2026 Berlin dilanda blackout, pemadaman listrik dan internet lumpuh, dugaan sementara adanya sabotase di Lichterfelde. Sekjen NATO Mark Ruttke jauh-jauh sejak bulan Juni tahun lalu sudah mengingatkan semua anggotanya agar menaikkan 5% anggaran militer.
Selain faktor ekstrim musim dingin, eskalasi ketegangan dikabarkan juga meningkat setelah laporan Dinas Intelligent dan Keamanan Militer (AIVD) Belanda tentang kewaspadaan terhadap kapal-kapal perang Rusia tengah melakukan pemetaan infrastruktur di Laut Utara. Perilaku spionase ini sudah berlangsung sejak tahun 2023, mengingat jarak laut dari Pelabuhan Saint Petersburg dengan Rotterdam adalah 1000-1500 NM. Dalam rentang yang pendek ini, militer Rusia telah melakukan beberapa aktivitas terselubung.
NL Times dengan berita berjudul “Dutch Household to Receive Manual for Surviving First 72 Hours After National Emergency” mengingatkan masyarakat sipil untuk kewaspadaan pertama menjelang 72 jam saat negara dalam keadaan darurat nasional. Pesan itu telah disiapkan antara November – awal Januari 2026 setelah adanya peringatan cuaca ekstrim, sabotase, dan kemungkinan terjadinya perang. Masyarakat Belanda diminta untuk menyiapkan diri atas segala sesuatu yang memungkinkan terjadinya blackout dan terjangan iklim parah, namun jika disimak dari berbagai kanal berita, peringatan itu dikaitkan dengan upaya akan adanya perang.
Sejak 2024 anggaran militer Belanda meningkat tajam di angka $22,8M dan di tahun 2025 naik 1,5%, anggaran tersebut diperkirakan akan mencapai $31,2M di tahun 2029. Kenaikan eksponesial itu menjelaskan adanya anomali geopolitik pasca perang Ukraina, bahwa pemerintah Belanda dalam 3 tahun terakhir telah menyadari sebuah kewaspadaan vital, yaitu ancaman pengambilalihan sumber daya teknologi secara paksa melalui perang.
Chip!
Kenapa harus Belanda?
Perang siber bertujuan menguasai, melumpuhkan, dan mengambil alih sumber daya global. Perusahaan ASML yang berbasis di Veldhoven Belanda adalah satu-satunya produsen mesin litografi EUV (Extreme Ultraviolet) di dunia. ASML (Advanced Semikonduktor Materials Lithograpy) adalah mesin super canggih yang digunakan untuk membuat transistor super kecil berukuran 5nm, 3nm, hingga 2nm. Perusahaan ini menyuplai transistor untuk kebutuhan pembuatan chip perusahaan teknologi seperti Nvidia, TSMC yang berbasis di Taiwan, Mistral AI, Samsung, dan raksasa industri AI lainnya. Total investasinya mencapai $1,5B.
Tanpa litografi ASML, perangkat AI tidak bisa dibuat dan model AI seperti chat gpt, Claude, grok dan super komputer moderen tidak akan pernah ada. Transistor buatan ASML adalah fundamen teknologi AI dan kebutuhan akan semisuperkonduktor dunia. ASML menjadi satu-satunya perusahaan penyedia litografi dan letaknya hanya ada di Belanda.
China pada Oktober 2025 dikabarkan pernah mencoba memalsukan mesin litografi dengan membongkar mesin ASML untuk dirakit kembali, namun usaha ini gagal karena mesin canggih tersebut memiliki kode-kode tertentu yang tidak bisa direkayasa maupun diduplikasi. Karena kesal, akhirnya pada Desember 2025 di Shenzen, China melibatkan ribuan insinyur untuk membuat mesin litografi versi China sendiri, yang rumornya mesin ini baru akan dikembangkan di tahun 2026.
Pentingnya chip dalam penguasaan teknologi mendorong negara-negara super power berlomba-lomba mengembangkan teknologi milter secara senyap dan ekstraktif. Dalam operasi militer super presisi “Operation Absolute Revolve”, Amerika menggunakan teknologi AI untuk menaklukkan militer Venezuela.
Dikutip dari artikel berjudul “Operasi 300 Menit: Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela” oleh Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte (Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana) dijelaskan bagaimana orkestrasi Hantu Langit bekerja secara presisi: “Di lapisan paling atas, ada E-3 Sentry. Pesawat radar piringan jamur itu. Ia jadi dirigen. Mengatur lalu lintas tempur agar tidak kacau. Di bawahnya, ada F-35 Lightning II. Perhatikan detail ini: F-35 tidak menembakkan satu peluru pun. Tugasnya cuma satu: menjadi pengendus”. Sensor fusion-nya menyedot semua sinyal elektronik dari daratan Venezuela. Begitu radar S-300 buatan Rusia milik Venezuela menyala, F-35 mengirim data ke belakang. Di sana sudah menunggu EA-18G Growler. Pesawat perang elektronika. Boom! Bukan bom yang dijatuhkan. Tapi sinyal jamming bertenaga tinggi. Layar radar di Caracas tidak meledak. Hanya memutih. Buta total. Operator radar Venezuela cuma bisa bengong melihat semut di layar monitor. Saat buta itulah, tamu utamanya masuk.”
Donald Trump membutuhkan pasokan energy dari Venezuela secara murah untuk mengembangkan infrastruktur AI yang lebih maju. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan penggunaan listrik pusat data yang berkaitan dengan adopsi AI dari 460 TWh pada tahun 2022 menjadi lebih dari 1.000 TWh pada tahun 2026. Sementara kebutuhan energi untuk pengembangan AI untuk saat ini masih didominasi oleh bahan bakar fosil.
Ketakutan Trump yang nyata bukanlah pada perang fisik yang menggunakan rudal-rudal balistik, tetapi pada perang AI yang menyatu pada sistim pertahanan militer. TSMC (Taiwan Semikonduktor Manufacturing Company) yang bermarkas di Hsinchu Science Park adalah perusahan manufaktur yang menghasilkan berbagai macam chip canggih untuk raksasa Nvidia, Apple, AMD, Qualcom, Broadcom, hingga Intel dianggap sebagai bagian terpenting yang harus dilindungi Trump, di samping Taiwan sebagai kunci pertahanan Amerika dan sekutu-sekutunya di Asia Pasifik. Jika TSMC jatuh ke Beijing – mengingat ketegangan yang sedang terjadi di sana – maka rantai pasok global bisa dipakai sebagai senjata politik untuk membuat ketergantungan dan TSMC akan dimanfaatkan Beijing dalam pengembangan chip AI guna keperluan militer.
Baik China dan Rusia yang sama-sama mengembangkan teknologi AI untuk keperluan militer, keduanya dianggap menjadi lawan tanding bagi Amerika dalam hal penguasaan dan invasi teknologi. Trump adalah seorang pengusaha, tipikal anti rugi ini yang dia mainkan dalam skema “ambil paksa” yang terjadi di Venezuela, semata-mata sebagai cara dia untuk memamerkan teknologi AS yang presisi di langit Caracas.

