SEKOLAHPEMIMPIN – GLOBAL WAR, Kematian Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran selama hampir empat dekade, yang dikonfirmasi oleh media negara Iran pada Minggu pagi 1 Maret 2026, memicu reaksi beragam yang mendalam di seluruh negeri.
Media Iran IRIB dan Tasnim News Agency mengumumkan bahwa Khamenei “syahid” akibat serangan gabungan AS-Israel, disertai pengumuman 40 hari masa berkabung nasional. Namun, di balik duka resmi yang disiarkan di TV negara dengan spanduk hitam dan bacaan Al-Quran, gelombang kegembiraan meledak di jalan-jalan Tehran, Karaj, Isfahan, dan kota-kota lain.
Menurut laporan Reuters, saksi mata melaporkan warga keluar ke jalan untuk merayakan, dengan suara klakson mobil, kembang api, dan tarian spontan yang memenuhi udara malam.
CNN melaporkan bahwa sorak-sorai dan perayaan terdengar di berbagai bagian Tehran pada Sabtu malam setelah laporan awal kematian Khamenei beredar. Video yang diverifikasi menunjukkan penduduk berteriak dari balkon, menyalakan kembang api, dan memutar musik Persia yang meriah, sementara banyak yang meneriakkan slogan “Kebebasan, kebebasan!” dan “Hidup Shah!”
BBC Persian juga mengonfirmasi adegan serupa di Tehran dan Karaj, di mana warga bersorak dan bertepuk tangan, menggambarkan momen itu sebagai “ledakan emosi” setelah bertahun-tahun penindasan. Banyak penduduk yang dihubungi melalui Starlink menyatakan rasa syok bercampur sukacita, dengan satu sumber mengatakan, “Ini meledak begitu saja seperti mimpi menjadi kenyataan.”
Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mengumumkan kematian Khamenei melalui Truth Social, sebelumnya secara terbuka mendukung rakyat Iran untuk keluar dari penindasan rezim. Dalam pernyataan terbaru yang dikutip oleh Reuters dan BBC, Trump menyatakan: “Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran yang hebat untuk merebut kembali negara mereka dari para penindas. Rakyat Iran telah menderita terlalu lama di bawah rezim yang kejam ini. Saatnya bagi rakyat untuk bangkit, mengambil alih kekuasaan, dan membangun masa depan yang bebas, damai, dan makmur. Amerika Serikat berdiri bersama Anda kebebasan akan menang!” Pernyataan ini langsung memicu gelombang dukungan di media sosial dan semakin membakar semangat perayaan di jalanan Iran.
The New York Times melaporkan bahwa kerumunan besar berbondong-bondong ke jalan di Tehran dan kota-kota lain sepanjang malam, menari, bertepuk tangan, dan meneriakkan “Woohoo, hurrah!” Sambil sopir mobil membunyikan klakson dan kembang api menerangi langit.
Di beberapa lingkungan, warga dari jendela dan balkon ikut bergabung dalam nyanyian “kebebasan”. Meski ada sebagian kecil yang berduka secara pribadi di media sosial, mayoritas reaksi publik menunjukkan kegembiraan atas akhir era Khamenei, yang selama ini dikaitkan dengan penindasan protes dan korban jiwa ribuan demonstran.
Iran International mencatat bahwa perayaan menyebar ke berbagai kota seperti Shiraz, Kermanshah, Sanandaj, dan Abdanan, di mana video menunjukkan pemuda menari di jalan meski internet terganggu parah. Aktivis seperti Masih Alinejad membagikan video warga merayakan di dalam negeri, dengan pesan “Am I dreaming? Hello, new world!” Reaksi ini mencerminkan perpecahan mendalam masyarakat Iran, duka resmi dari pemerintah kontras dengan sukacita rakyat yang lama menantikan perubahan.
Dukungan terbuka dari Trump dan seruan untuk mengambil alih kekuasaan semakin memperkuat harapan bahwa kematian Khamenei bisa menjadi awal dari revolusi sejati yang telah lama ditunggu rakyat Iran.

