SEKOLAHPEMIMPIN – GLOBAL WAR, Stasiun televisi negara Iran (IRIB dan IRINN) secara resmi mengumumkan kematian Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang telah memimpin selama hampir empat dekade (1/03/26).
Pengumuman ini disampaikan melalui pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), yang menyalahkan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel sebagai penyebab “kemartiran” sang pemimpin berusia 86 tahun itu.
Presiden AS Donald Trump lebih dulu mengklaim kematian Khamenei melalui platform Truth Social, menyatakan bahwa Khamenei tewas dalam serangan udara besar-besaran AS-Israel yang dimulai Sabtu dini hari (28 Februari 2026) dalam operasi “Operation Epic Fury”.
Menurut laporan BBC, Trump menulis: “Khamenei, one of the most evil people in History, is dead,” sambil menyebutnya sebagai “keadilan” bagi rakyat Iran, Amerika, dan dunia. BBC melaporkan bahwa Trump menyatakan serangan akan berlanjut “tanpa henti” hingga tujuan tercapai, yaitu perdamaian di Timur Tengah, dan ini memberi “kesempatan terbesar” bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negaranya.
Media negara Iran seperti Press TV, IRNA, Fars, dan Tasnim juga melaporkan bahwa Khamenei “syahid” dalam serangan tersebut, yang juga menewaskan putri, menantu laki-laki, dan cucu perempuannya.
Kematian tersebut dipandang sebagai pukulan telak bagi rezim, dan pengumuman TV negara datang beberapa jam setelah klaim Trump. Belum ada penyebutan suksesor resmi, menimbulkan kekhawatiran kekosongan kekuasaan di tengah perang yang sedang berlangsung. BBC mencatat bahwa sumber intelijen AS dan Israel mengonfirmasi kematiannya, meskipun awalnya ada penyangkalan sementara dari pihak Iran.
Dampaknya langsung terasa, Iran menyatakan akan balas dendam dengan serangan rudal ke pangkalan AS dan Israel di kawasan, sementara harga minyak global langsung melonjak tajam karena ancaman gangguan di Selat Hormuz.
Para analis memperingatkan bahwa tanpa Khamenei, rezim bisa menghadapi kekacauan internal atau eskalasi regional tak terkendali. BBC menyoroti ini sebagai titik balik sejarah, dengan dunia menanti apakah kematian ini melemahkan Iran atau justru memicu api revolusi baru.
Saat ini, suasana di Iran dipenuhi duka, amarah, dan ketidakpastian. Klaim Trump yang dikonfirmasi BBC dan akhirnya oleh TV negara Iran menandai babak paling gelap dalam konflik ini dunia sedang menyaksikan perubahan peta Timur Tengah yang dramatis, dan waktu semakin menipis sebelum ledakan lebih besar terjadi.

