(Refleksi Kritis Di Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026)
Oleh Sumartoyo, S.Pd., M.Si.
Infinity dalam matematika adalah tidak terhingga, sesuatu yang tidak dapat dijangkau atau pun diakhiri. Infinity menggambarkan segala sesuatu yang tidak memiliki batas atau akhir, baik dalam deret, jumlah, maupun skala. Ibarat mengeksplorasi alam semesta, tidak ada satupun orang di dunia ini yang dapat mengetahui seberapa lebar dan jauhnya luar angkasa, karena alam semesta sendiri bersifat infinity atau terus mengembang tanpa batas, dan bisa jadi bersifat multiverse atau bercabang seperti yang dibahas dalam ilmu kuantum.
Absolutisme tidak dapat dikategorikan sebagai infinity. Absolut atau kemutlakan adalah sesuatu yang sudah dianggap final dan sudah tidak bergantung pada apapun. Prinsip ini melekat pada keabsahan ruang dan bentuk, namun tidak pula dapat diukur karena pada dasarnya absolut itu tidak dikatakan berawal dan tidak berakhir, dan melampaui segala definisi terbatas.
Istilah “tidak berakhir” pada absolutisme berbeda dengan istilah “tidak memiliki akhir” pada infinity. Absolutisme lebih kepada kualitas esensial, sedangkan infinity lebih menekankan ketakterbatasan dalam hal ekstensi atau durasi atau bersifat kualitas ekspansif. Sebagai contoh hukum gravitasi adalah kebenaran inti yang tidak bergeser atau diperluas melampui definisinya sendiri, dikatakan bahwa dua benda yang sama-sama memiliki massa akan saling tarik-menarik dengan gaya yang sebanding dengan hasil kali massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak di antara kedua massa itu. Keadaan itu disebut kualitas essensial dan mutlak, karena mau terjadi di bumi maupun di planet lain sifat absolutnya tetap sama dan berlaku universal.
Bandingkan dengan hukum cahaya yang berlaku pada infinity. Manusia bisa melihat cahaya dari galaksi atau bintang yang sudah mati miliaran tahun lalu. Potensi cahaya ini disebut berlangsung selamanya sehingga dikatakan tidak memiliki keterbatasan dalam durasi. Lalu, dari sumbernya cahaya tersebut dapat menyebar ke segala arah, meluas dalam ruang tanpa batas yang disebut ketakterbatasan dalam eksistensi. Cahaya menunjukkan sifat ekspansif tanpa ada titik akhir.
Sedangkan multiverse bisa diartikan bahwa dunia ini bukanlah satu-satunya, ada banyak dimensi lain dan setiap orang dapat berada di dunia yang berbeda, melintasi ruang dan waktu, dan hidup secara pararel di berbagai dimensi yang berbeda. David Lewis pernah mengatakan:
“Semua kemungkinan yang logis benar-benar ada sebagai alam semesta yang nyata”.
Bayangkan pendidikan adalah sebuah multiverse pendidikan yang tak terbatas; regulasi, sistim, pola, murid, guru, lingkungan, dll bekerja secara pararel, dan dalam versi perubahan apapun, murid adalah versi terbaik dirinya bahwa di dimensi yang satu bukan tempat dia gagal, masih banyak dimensi yang pararel dengan bakat dan pengetahuannya, sehingga ruang geraknya pun kemudian tidak terbatas dan tidak dibatasi oleh sistim maupun aturan main monoverse.
Ketika mendalami struktur infinity dan multiverse pendidikan, penulis setuju dengan cara berpikir Pak Menteri Abdul Mu’ti bahwa pendidikan di Indonesia seharusnya membuka akses ke banyak semesta. Hanya saja tidak semudah membalik telapak tangan, bahwa hari ini tidak semua guru siap dibawa ke ruang multiverse, bukan karena mereka tidak mampu, tetapi masih kurangnya dukungan pendidikan modern dan infrastruktur untuk ke sana. Sebaliknya guru yang memahami perubahan ini melakukan sendiri dengan upaya ala kadarnya, setidaknya mereka berusaha membuat perubahan-perubahan kecil yang bermakna bagi perjalanan hidup murid-muridnya.
Ruang multiverse mengharuskan dunia pendidikan bergerak secara fleksibel
Ada substansi di dalam diri pendidikan dewasa ini yang membuatnya seolah-olah bergerak secara ekspansif ke semua arah, dan salah satu muatannya hari ini adalah bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dibuat untuk mendekatkan peradaban, jauh lebih cepat dari yang manusia bayangkan sejak depresi ekonomi pasca covid-19. Namun pada realitasnya, pendidikan yang seharusnya mampu menampung dan memproduksi muatan tersebut dalam sistim pengajaran rupa-rupanya masih mengadopsi model pengajaran yang arahnya lebih ke esensialitas absolut. Artinya, patron maupun model kurikulum yang hari ini merupakan produk dari regulasi pemerintah masih dinilai lambat atau kalah cepat dengan perkembangan teknologi yang bergerak secara ekspansif ke semua sektor. Problematik ini terlihat sangat nyata pada sistim pendidikan di Indonesia yang masih berputar-putar pada persoalan karakter, kompetensi guru, daya serap, daya dukung, hingga pada konteks geo dan topografi pendidikan yang belum mencerminkan perubahan signifikan di dalamnya.
Semua sudah melek bahwa dunia hari ini disuguhkan berbagai macam perkembangan teknologi. Sebut saja Artificial Intelligence (AI) dari model yang saat ini viral adalah Narrow AI diperkirakan penggunanya sudah mencapai 2,5 – 3 miliar orang di seluruh dunia, dan dalam waktu bersamaan tengah dikembangkan AGI (Artificial Generatif Intelligence) adalah AI dengan kemampuan sudah menyerupai manusia dan beberapa perusahaan teknologi seperti Tesla, Ubtech, Unitree, tengah mengadopsi perangkat lunak AGI untuk dipasangkan ke robot-robot humanoid yang diproduksi massal guna keperluan industri manufaktur, kesehatan, pertanian, hingga robot asisten rumah tangga.
Bukan untuk dibandingkan melainkan sebagai informasi semata tentang upaya Pemerintah China melalui Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi mereka sedang menargetkan produksi robot humanoid canggih pada tahun 2025-2030. Industri ini dibackup modal sebesar 6,44 triliun yuan atau setara 14.168 triliun atau senilai dengan total dana investasi Danantara. Angka ini melebihi pengembangan teknologi AI Amerika Serikat di angka 7000 triliun. Tidak hanya itu dalam 2 hingga 3 tahun ke depan dunia akan diramaikan oleh perangkat canggih supercomputer quantum seperti yang telah dihasilkan oleh Microshoft lewat pengembangan Chip Quantum Majorana 1 pada ujicoba pertama mereka di februari 2025. Tentu dengan adanya Komputer Quantum membuka peluang melahirkan superintelligent AI sebagai bias ekspansif dari masa depan yang disebut sebagai teknologi infinity. Program ini secara otomatis mempengaruhi sistim pendidikan di China, hingga tidak mengherankan anak-anak SD kelas 3 di sana sudah mampu membuat drone AI tidak kurang dari 5 menit.
Multiverse dalam dunia pendidikan hanyalah metaforis
Kondisi dan tantangan saat ini melukiskan dinamika pendidikan yang berkembang tidak lagi pada satu atau dua aspek, melainkan lintas aspek, dan itu bersifat infinitif. Baik itu problematika kedalaman tantangan pendidikan yang telah saling bergesekan dengan kebutuhan zaman, teknologi yang terus berkembang dan terus diperbaharui, hingga keterbatasan pola pengajaran, media, serta regulasi yang tidak berpihak pada perubahan adalah inflasi dalam dunia pendidikan. Ini masalah serius yang dihadapi Indonesia dan tidak lagi ada kata “jangan samakan kita dengan negara lain” sebagai sikap ngeles tidak mau belajar.
Apa yang telah berkembang saat ini seyoggianya perlu diikuti dengan perbaikan kurikulum. Generasi Alpha yang kini dipersiapkan mengisi Indonesia Emas 2045 adalah generasi Digital Native sejati, mereka tumbuh dengan teknologi cerdas sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Berbeda yang dipertontonkan guru di kelas, ada jurang pengajaran dengan apa yang dikuasi guru melalui panduan kurikulum dengan apa yang dipelajari generasi alpha dari jendela digital. Ada dua medan kutub yang sama sekali tidak saling tarik-menarik, bahkan murid kehilangan versi multiversenya, dan berakhir gagal.
Banyak negara di dunia telah mengubah kurikulum mereka agar beriringan dengan kemajuan teknologi. Kurikulum itu mampu menyuplai kebutuhan dan tantangan pendidikan terkait IPTEK dan memproduksi pengetahuan yang baru yang diperuntukkan bagi kebutuhan berbagai macam industri di negara mereka. Sebagai contoh negara tetangga kita Singapura memiliki National Institute of Education (NIE) meluncurkan program AINIE, yaitu kurikulum yang mengintegrasikan AI ke semua jenjang pendidikan di Singapura. Para siswa di Singapura dilatih penggunaan platform TensorFlow untuk membangun model AI sederhana yang dapat diterapkan oleh siswa pada berbagai kasus nyata seperti analisis permintaan produk ritel, studi kasus lingkungan, kesehatan, pembuatan perangkat lunak untuk robotik, hingga membuat perhitungan teknik sipil untuk bangunan anti gempa.
Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam, budaya, dan wisatanya sudah selayaknya memiliki kurikulum yang adaptif terhadap keberlangsungan negara ini di masa depan. Sama halnya teknologi yang bergerak infinity, begitupun pendidikan dengan disiplin ilmunya yang multiverse akan selalu seirama dengan kebutuhan bangsa ini menghadapi era cyberpunk. Sebagai aktivis di dunia pendidikan yang hingga hari ini masih konsisten mengajar di pelosok Kab. Tana Toraja, penulis ingin menyarankan agar Kemendikdasmen berani mengambil kebijakan yang bersifat “human-centric technology” dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan budaya leluhur, menghidupkan kurikulum yang bersifat ekpansif, dan ekosistem pembelajaran digital 5.0 yang lebih progresif yang dapat diakses dari tempat paling jauh dan terluar di republik ini.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026.
____________________________
Penulis adalah Guru, Aktivis, Pelaku di Industri Kripto dan UMKM, Penggerak di Berbagai Organisasi Pemuda, Pengurus Pusat Asosiasi Guru Penulis Indonesia, dan Pemimpin di Sekolah Pemimpin.

