1000958623

WAROPEN: “DARI SERIBU BAKAU MENUJU BRAND CITY NASIONAL”

Oleh: Baharudin Farawowan

Setiap kali berkunjung ke suatu daerah, saya memiliki kebiasaan sederhana: menuliskan sesuatu yang unik dan bermakna tentang daerah tersebut. Kali ini, bersama rekan-rekan dalam tugas kepartaian, kami melakukan konsolidasi PDI Perjuangan di Kabupaten Waropen sebuah daerah yang dikenal dengan julukan ”Seribu Bakau.”

Julukan itu bukan sekadar simbol. Saat pertama kali menginjakkan kaki dari jalur laut, hamparan hutan mangrove di bibir pantai seolah menjadi gerbang alami yang menyambut kedatangan. Pemandangan ini bukan hanya indah, tetapi juga menyimpan kekuatan ekologis dan ekonomi yang luar biasa.

Namun, satu hal yang menjadi catatan penting: potensi besar Waropen ini belum terekspos secara maksimal di tingkat nasional.

Kita belajar dari daerah lain. Yogyakarta dikenal dengan gudegnya. Jakarta dengan identitas metropolitan. Bali dengan “Pulau Dewata” yang mendunia. Semua itu lahir dari branding daerah yang kuat, konsisten, dan terencana.

Waropen pun memiliki peluang besar untuk itu.

”Waropen Negeri Seribu Bakau” bukan hanya slogan, tetapi bisa menjadi identitas strategis yang mengangkat:

  • Wisata ekowisata mangrove.
  • Ketahanan pesisir dan lingkungan hidup.
  • Sumber ekonomi berbasis kelautan dan perikanan.
  • Produk lokal berbasis hasil hutan dan laut.

Di balik rimbunnya mangrove, tersimpan potensi ekonomi yang sangat menjanjikan: kepiting bakau. Waropen memiliki habitat alami yang ideal untuk pertumbuhan kepiting berkualitas tinggi komoditas yang memiliki nilai jual besar, bahkan hingga pasar ekspor.

Namun realitanya, potensi ini belum tertata dengan baik, terutama dalam hal:

  • Sistem distribusi dan rantai pasok.
  • Standarisasi kualitas dan ukuran.
  • Pengemasan dan pengolahan pasca panen.
  • Akses pasar hingga ekspor

Akibatnya, nilai ekonomi yang seharusnya dinikmati masyarakat lokal belum maksimal. Ke depan, perlu ada langkah serius dan terarah:

  • Pembentukan sentra budidaya dan penangkapan berkelanjutan.
  • Pelatihan dan pendampingan nelayan serta pelaku UMKM.
  • Pembangunan cold storage dan fasilitas logistik.
  • Kemitraan dengan pelaku usaha nasional dan eksportir

Jika dikelola dengan baik, kepiting Waropen bisa menjadi ikon baru daerah, sejajar dengan branding kuliner daerah lain di Indonesia.

Lebih dari itu, pengembangan sektor ini dapat menciptakan program padat karya yang langsung menyentuh masyarakat pesisir, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan secara nyata.

Semua ini sejalan dengan semangat kemaritiman Indonesia yang menempatkan laut dan pesisir sebagai masa depan bangsa.

Dengan kepemimpinan daerah yang saat ini berada dalam satu garis perjuangan Bupati dan Ketua DPRD dari PDI Perjuangan ini adalah momentum strategis untuk mendorong kebijakan yang berpihak pada rakyat, berbasis potensi lokal, dan berorientasi jangka panjang.

Waropen tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah yang “kaya potensi”, tetapi harus tampil sebagai daerah yang mampu mengelola potensi menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.

Dari bakau dan kepiting, kita tidak hanya bicara sumber daya tetapi masa depan Waropen.

________________

Tulisan ini lahir setelah saya berdiskusi santai bersama Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si., dan Ketua DPRD Waropen, Yennike S.K. Dipan, S.Sos., sebagai bentuk refleksi bersama untuk mendorong kemajuan Waropen ke depan.

Waropen-Papua, 28 April 2026
Penulis
Baharudin Farawowan
Ketua Umum DPP Gerakan Poros Maritim Indonesia (GEOMARITIM) / Duta Indonesia dalam konferensi laut dunia OOC Tahun 2018.

Bagikan ke teman kamu !

Shares

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares