![]()
SEKOLAHPEMIMPIN – Bittuang, Semangat demokrasi mengalir deras di SMPN Satap 2 Bittuang, Kamis (30/7/2026). Bukan sekadar sosialisasi biasa, kehadiran Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tana Toraja beserta jajaran komisioner menjadi momen bersejarah bagi para siswa.
Mereka datang memenuhi undangan sekolah untuk memperkuat kapasitas pemilih muda (generasi alpha menjelang pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS yang digelar esok hari, Jumat (31/7/2026).
Yang istimewa, mekanisme pemilihan OSIS kali ini sepenuhnya meniru standar KPU. Mulai dari pemutakhiran data pemilih, penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT), hingga prinsip LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia) dan JURDIL (Jujur dan Adil). Sebuah terobosan pembelajaran kontekstual yang dirancang agar siswa tidak sekadar memilih, tetapi memahami makna kedaulatan rakyat sejak dini.
Kepala Sekolah SMPN Satap 2 Bittuang, Norita Kombong Bawan, S.Pd., mengapresiasi kehadiran Ketua KPU dan seluruh komisioner. “Melalui kegiatan ini, siswa belajar demokrasi secara nyata. Mereka dilatih menerapkan sila keempat Pancasila yaitu mampu menerima pendapat orang lain dan bersikap LUBER,” ujarnya. Bagi Norita, momen ini bukan sekadar persiapan pemilihan, melainkan pembentukan karakter pemimpin masa depan.
Ketua KPU Tana Toraja, Berthy Paluangan, S.T., M.S.P., membuka paparan dengan menjelaskan struktur dan pembagian tugas KPU di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten. Ia mengingatkan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, perencanaan penyelenggaraan pemilu dilakukan 20 bulan sebelumnya. “Sebagai lembaga, kami bekerja berdasarkan kewenangan yang sudah diatur. Tidak ada yang dispesialkan. Semua harus jujur dan adil,” tegas Berthy menjelaskan agar siswa yang bertindak sebagai KPU OSIS memahami mekanisme pemilu sebagai perencanaan yang matang.
Pesan utama yang disampaikan kepada para siswa sebagai “KPU OSIS” sangat jelas oleh Berty bahwa KPU OSIS memiliki kewenangan untuk menentukan pemimpin, kerjakan segala proses tepat waktu, dan pastikan data pemilih dimutakhirkan menjadi DPT yang akurat. “Pemimpin yang baik lahir dan terpilih dari pemilihan yang baik dan benar,” kata Berthy. Ia juga mengingatkan pentingnya pengaturan waktu agar proses pemilihan berlangsung tertib dan bermartabat.
Sementara itu, Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM, Daniel Ta’dung, S.Pd., membawa suasana interaktif. Ia membuka dengan pertanyaan menggelitik: “Mengapa kita harus memilih, padahal semua orang punya hak pilih?” Daniel menjelaskan bahwa memilih adalah keputusan politik yang harus lahir dari pikiran yang mendalam, bukan sekadar ikut-ikutan.
Dalam sistem demokrasi, ia menguraikan konsep trias politica sebagai pembagian kekuasaan menjadi eksekutif, legislatif, dan yudikatif sebagai fondasi agar negara tetap seimbang. Publik memiliki legitimasi untuk menghindari kekacauan dan membangun kepercayaan. “Pesta demokrasi adalah ruang musyawarah seluruh rakyat Indonesia yang diperkecil menjadi TPS-TPS,” ujarnya sebagai refleksi implementatif.
Namun Daniel tidak menutup mata terhadap “racun” demokrasi seperti penyebaran hoaks, politik uang, ujaran kebencian, dan suap. Karena itu, integritas menjadi nilai tertinggi. Baik penyelenggara maupun pemilih wajib menjaga proses agar bersih, serta mengatur waktu secara efisien.
Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan, Natalianus Paembe Saruallo, S.E., memperkuat pesan tersebut. Negara, katanya, telah mengamanatkan undang-undang untuk menalarkan demokrasi kepada masyarakat. “Sejujurnya kami datang adalah untuk memberikan penguatan agar siswa belajar berdemokrasi untuk menjadi pemimpin,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa terpilih berarti menerima mandat dan kepercayaan rakyat. Dukungan itu harus digunakan untuk bekerja dengan baik. Penyelenggara pemilu harus mawas diri, tidak menyebarkan hoaks, menaati peraturan, tidak mewakili nama siswa lain, tidak menghalangi hak pilih orang lain, dan tetap netral.
Bagi siswa yang kelak akan ikut pemilu nasional 2029, momen ini menjadi latihan berharga. Mereka diajak mengenal calon pemimpin melalui penalaran visi-misi, debat, dan kampanye. “Sosialisasi hari ini adalah terobosan,” kata Natalianus. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan bersama baik dari siswa maupun guru serta kesiapan mitigasi jika terjadi gangguan.
Di akhir kegiatan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Sumartoyo, S.Pd., M.Si., menyampaikan terima kasih mendalam kepada Ketua KPU dan para komisioner dan tim. “Kegiatan ini merupakan bagian dari inovasi pembelajaran mendalam yang dirancang secara kontekstual. Kami ingin siswa tidak hanya mengetahui demokrasi, tetapi merasakannya, menjalaninya, dan mempraktikkannya,” ujarnya.
Sebagai refleksi, Sumartoyo menambahkan bahwa ada pesan kuat terpancar dari Bittuang, sebuah pesan bagi pemilik regulasi di daerah ini tentang demokrasi yang bukan milik orang dewasa semata. Demokrasi hidup dan tumbuh di tangan generasi muda yang belajar sejak sekarang. Dengan pemilihan OSIS yang jujur, adil, dan bermartabat, para siswa SMPN Satap 2 Bittuang tidak sekadar memilih pemimpin, tetapi sedang belajar menanam benih kepemimpinan menuju bangsa yang bermartabat.
Tim Sekolah Pemimpin

