![]()
Oleh Sumartoyo, S.Pd., M.Si.
SEKOLAHPEMIMPIN – Persekutuan Kaum Pria (PKP) Gereja KIBAID memperingati hari ulang tahunnya yang ke-30 pada juli ini. Bertambahnya usia PKP di era digital menjadi catatan penting perjalanan PKP dari masa ke masa, dari visi ke misi, dari prinsip-prinsip pelayanan ke aksi, dan bagaimana jangkauan holistik pelayanan telah mempengaruhi pribadi PKP bertumbuh dalam kelompok masing-masing. Waktu yang sangat panjang itu sejujurnya telah melampaui gagasan dan sekedar refleksi.
PKP dinilai sebagai garda paling depan dalam gereja KIBAID. Sosok yang selalu didambakan untuk jadi panutan, karena di tangannyalah semua organ PIG dihidupkan dan diakselerasikan ke dalam satu pelayanan penyembahan. Secara kontekstual, program-program PIG memiliki relevansi yang dapat berjalan beriringan dan berkesinambungan dengan program PKP. Hal ini sejalan dengan prinsip “pelayanan yang berpusat pada ayah/bapak” bahwa gereja yang diberkati dimulai dari membangun ayah/bapak selanjutnya keluarganya.
Ketika sang ayah dilengkapi dengan iman, karakter, dan tanggung jawab maka keluarga akan bertumbuh dalam iman dan kasih, gereja akan dikuatkan, dan masyarakat akan diberkati. Tantangan gereja KIBAID saat ini adalah bagaimana memenejs kembali pelayanan PKP secara holistik, agar keberadaan PKP tidak sekedar hadir dalam ibadah, namun fungsi dan perannya dihidupkan melalui tangggung jawabnya yang digerakkan dari rumah tangganya.
Pelayanan PKP secara holistik perlu dibangun secara kolaboratif. Seperti apa sih pelayanan holistik itu di era digital dewasa ini? Umumnya setiap PIG cendrung bergerak dalam silo-nya sendiri. Pertumbuhan iman jemaat dikatakan utuh manakala seluruh ekosistem jemaat bekerjasama.
Salah satu usaha kolaboratif yang dapat dibangun PKP di sini adalah perayaan iman keluarga yang melibatkan semua PIG secara bersamaan atau dengan istilah masa kini disebut Family Faith Festival. PKP menjadi mentoring terstruktur (Generation Bridge Mentoring) untuk PKW (Persekutuan Kaum Wanita, PKM (Persekutuan Kaum Muda), dan PSM (Persekutuan Sekolah Minggu) agar pelayanan yang melibatkan unsur keluarga dapat berdampak secara nyata dan bukan hegemoni pelayanan semata.
Selain itu ada istilah Kingdom Impact Produc, produk pelayanan terpadu PKP yang dapat diusulkan untuk menyelaraskan program-program PKP secara nasional dan lokal. Misi kolaborasi sebagai bagian dari domain KIP dikembangkan di produk ini. Pada tahun 2025 di GKJ Tombang diadakan Paskah PKP Kolaborasi yang melibatkan Klasis Makale, Sangalla’ dan Sangalla’ Selatan. Tahun ini empat klasis mengulangi hal yang sama yaitu Klasis Makale, Makale Utara, Sangalla’, dan Mengkendek Utara berkolaborasi untuk memperingati HUT PKP ke-30 tanggal 25 Juli’26 di Aula STT KIBAID Makale. Kolaborasi ini bertujuan mempererat kebersamaan, kekompakan, dan persaudaraan anggota PKP dalam pelayanan. Produk kolaborasi ini menjadi ajang bagi para ayah untuk membangun komunikasi, relasi, dan kerjasama yang saling menguntungkan.
Kolaborasi kaum pria adalah momentum yang seyogyianya bertumbuh dari kolaborasi yang lahir dari keluarga dan gereja. Kolaborasi yang lebih luas berkolerasi dengan kolaborasi yang berangkat dari keluarga. Menurut keyakinan penulis adalah sangat sulit mengaktifkan para pria dalam pelayanan PKP jika para pria belum kompak dalam keluarganya, karena panggilan pelayanan adalah panggilan Roh, bukan hasrat, apalagi hanya karena diajak untuk ikut meramaikan. Tidak cuma di KIBAID, Persoalan ini adalah polemik yang merata di hampir setiap denominasi dan menjadi tantangan terbesar gereja hari ini.
Di HUT PKP ke-30, Panitia mendesain berbagai aktivitas yang dinilai dapat mendorong keterlibatan PKP secara aktif. Misi inklusifitas ini bertujuan untuk merangkul para kaum pria, melegitimasi keyakinan yang ada pada dirinnya bahwa PKP melayani bukan hanya untuk kaum pria, tetapi melalui kaum pria, Kristus dihadirkan untuk keluarga, gereja dan masyarakat secara inklusif, kolaboratif, dan pun untuk misi transformatif. Jadi, datang untuk meramaikan HUT PKP ke-30 lebih kepada pembelajaran tentang nilai. Nilai itu antara lain: nilai syukur, kesetiaan, kepemimpinan yang melayani, transformatif, regeneratif, dan saling berbagi kasih.
Penulis adalah Sekertaris PKP Gereja KIBAID Klasis Makale

